Rumah Cahaya Penjaringan

Journal


Sebuah sms masuk dari Sita, sahabat saya yang juga moderator di milis pembacaanadia@yahoogroups.com,

“Mbak, ada kurban di rumah cahaya tahun ini?”

Nyaris setiap tahun, sejak rumah cahaya di daerah Rawa Bebek, Penjaringan (wilayah pasar di kolong tol yang menuju bandara) memang menyelenggarakan kurban. Beberapa teman dari Multiply juga sempat ikut mengirimkan kurban mereka bagi para dhuafa dan keluarga yatim di sana.

Kehidupan masyarakat di wilayah kolong jembatan di sana memang miris.
Bangunan sederhana berukuran 2.5 x 3 meter yang menjadi warung baca dan kreativitas itu sendiri, terletak  dekat dengan madrasah, namun juga tidak jauh dari lokalisasi pelacuran.

Sebelum berdirinya rumah cahaya, maka hanya gelap yang melingkupi daerah rawa bebek. Maksiat di mana-mana. Judi marak, anak-anak kecil berusia tujuh tahun sudah mahir main domino dan meramaikan mesin cel net. Ketika malam, kemeriahan tumpah di pelacuran tidak jauh dari situ.

Anak-anak itu, pikir saya, mereka harapan kita mengubah dunia. Anak-anak itu harus sama-sama kita selamatkan. Bukan hanya dengan bantuan uang, tapi lebih dari itu lewat buku, sebagai jendela dunia… dan pendidikan.

24 April 2004 Rumah Cahaya Penjaringan berdiri.
Kaki-kaki kecil tanpa alas dengan semangat berlari menuju rumah baca itu. Tangan-tangan kurus mereka bolak-balik meraih buku. Anak-anak kecil yang terkadang membawa serta adiknya yang masih bayi, menunjukkan gambar demi gambar sambil berceloteh menceritakan isi buku.

Tidak hanya itu, belakangan rumah cahaya menyediakan TPA Gratis bagi anak-anak yatim tidak mampu. Mereka yang tidak yatim, boleh ikut dengan membayar sebagian kecil spp.

Bahkan bangunan kecil itu sempat menjadi saksi berlangsungnya sebuah akad nikah, karena kedua keluarga pasangan tidak punya uang untuk menyewa tempat. Sementara hanya akad yang mereka perlukan untuk menghindarkan kemaksiatan dan hidup tanpa menikah yang masih dipraktekkan warga tidak mampu, setempat.

Seorang kawan yang mengetahui proses berdirinya rumah cahaya ini, berkali-kali berkata kepada saya, “Nadia, berkah insya allah… berkah tempat itu.”

Alhamdulillah, rumah cahaya Penjaringan merupakan bentuk keajaiban, yang meski sederhana telah menaklukan kemustahilan. Saya dan kawan-kawan tidak punya uang cukup untuk membangun, waktu itu,  hingga kami mendapat ide untuk menjual baju-baju bekas. Kisah usang yang terus saya gulirkan agar teman-teman lain yang memiliki keinginan serupa, tidak menyerah karena ketiadaan dana.

Selama hampir empat tahun, rumah cahaya penjaringan telah menjadi, barangkali satu-satunya cahaya yang memberi harapan bagi masyarakat sekitar kolong jembatan. Berbagai kegiatan untuk mengasah kreativitas juga digulirkan di sana.

Hingga saya mendengar kabar itu.
Seluruh rumah di kolong tol telah diratakan dengan tanah. Rumah Cahaya Penjaringan dan kios-kios lain di daerah pasar akan segera menyusul…

Untuk bangkit lagi sedikitnya dibutuhkan  uang 15 sd 20 juta untuk membeli tanah di sekitar sana, sementara membeli rumah sederhana sekitar 50-60 juta an.

Bukan jumlah yang sedikit... tp dengan kebersamaan mudah-mudahan bisa diwujudkan. Jika tidak lantas kemana anak-anak kecil itu nantinya harus melarikan langkah mereka?
Di mana mereka akan membaca? Hingga dengan kesederhanaan mereka bisa melihat dunia luas terbentang di depan mereka? Agar adik-adik kecil kita berani bermimpi?

Buku telah mengubah saya.
Ya, saya satu diantara begitu banyak orang yang meraih semangat untuk menjadi seseorang, lewat buku. Buku juga telah mengubah kakak saya hingga selain menjadi penulis bisa menyelesaikan S2-nya.

Buku yang selalu dibelikan mami, bukan  benda yang umum dibeli oleh keluarga-keluarga lain yang seperti kami,  tinggal di samping rel kereta api, dulu.  Bisa makan tiap hari sudah bagus. Membelikan buku bagi orang tua yang penghasilannya pas-pasan? Terlalu mewah!

Buku juga yang telah mengubah Joni Ariadinata. Hingga membawa langkahnya, yang awalnya hanya tukang becak, menjadi sedikit penulis yang diberi kesempatan untuk melihat tidak hanya Asia, tetapi juga Eropa.

Dan banyak lagi dari kita, bukan?
Buku telah menerbangkan kita begitu jauh. Meraih hal-hal yang dulu tidak terbayang di mata orang tua, menjejakkan kaki ke tempat-tempat yang lebih jauh. Bertemu dengan orang-orang yang dulu sama sekali tidak tergapai tangan …
Alhamdulillah.

Jika saja kita bisa menyalakan semangat yang sama pada adik-adik kecil tidak mampu di sekitar kita. Menyalakan semangat mereka, melalui buku. Membiarkan mereka iqra…

Rumah Cahaya akan digusur.
Dalam keadaan seperti itu, saya bertanya pada diri sendiri,
Sebentar lagi Iedul adha, kurban seperti apakah yang tepat saya berikan untuk teman-teman di sekitar kolong tol penjaringan?

Akankah Allah menerima sedikit bukti kecintaan saya jika melalui bentuk lain? Kurban saya dan teman-teman  kali ini, barangkali untuk  sejengkal tanah yang sangat diperlukan, agar Rumah Cahaya yang nantinya  digusur, bisa segera tegak di tempat lain?

Ilmu agama saya minim.
Saya kembalikan ini pada hati teman-teman.
Jika bukan kurban, mungkin infak, sedekah, atau wakaf…berapa pun besar kecilnya...
Apa pun agar Rumah Cahaya Penjaringan bisa segera berdiri dan memulai hidup baru.

Saya ngeri membayangkan kemana langkah-langkah kecil di sana akan beralih.
Begitu banyak jebakan maksiat yang akan mengunci hidup mereka, hingga tidak ada sesuatu yang besar menunggu mereka kecuali kegelapan…ketidakberdayaan yang bertahun-tahun dijalani orang-orang tua mereka.

Alah, jangan biarkan itu terjadi.

Maka, kepadaMu yang Maha Kaya,
perkenankan saya meminta ya Allah...
Gerakkan hati mereka yang peduli
Gerakkan hati mereka yang memiliki kelapangan.
Tetapkan mereka pada kebaikan ya Allah
Dan beri keikhlasan mereka, balasan surga-Mu

Allahumma Amin…

- uluran tangan rekan-rekan untuk menyelamatkan rumah cahaya penjaringan,  bisa disalurkan melalui: Rek BCA an Asmarani Rosalba (nama asli asma nadia),
No. Rek 8690216192

mohon sms atau email setelahnya untuk ketertiban amanah teman2  ke:

- Andi Birulaut 0818674667 (kordinator rumah cahaya pusat); birulaut3@yahoo.com
- Ida Zuraida: 081513979695 & 98830032 email: apriyanti.zuroida@unilever.com (kordinator "Selamatkan Rumah Cahaya Kami")

(dokumentasi foto: srisariningdiyah /eyiq... )



 


Alhamdulillah,
Hari Minggu ini, tanggal 12 Maret 2006, Rumah Cahaya Penjaringan kembali akan didatangi tamu istimewa...

Gak hanya satu atau dua, tapi rombongan dari keluarga besar Multiply yang akan hadir. Apalagi kalau bukan untuk memberi manfaat dan kebahagiaan bagi adik-adik binaan Rumah Cahaya Penjaringan.

Acara akan dimulai pukul sembilan. Di samping pemeriksaan gigi, akan ada pemeriksaan kesehatan oleh dokter umum. Selain anak-anak, masyarakat tidak mampu di sekitar juga akan mendapatkan kesempatan diperiksa.

Dalam acara yang akan dikordinir oleh Mb Arie, Neta, Trully, Pritha, Leonie, Shanti dll (maaf, pasti banyak yang nggak kesebut nih...yang diingat waktu rapat di book corner aja... maaf ya...), adik-adik rumah cahaya akan mendapat kesempatan diperhatikan: GIGINYA!

Bersih gigi penting sekali... salah satu awal mengelola kesehatan yang bisa ditularkan ke adik-adik kecil kita. Selain itu mudah-mudahan ini juga jadi ajang buat kakak-kakak di multiply, RCP dan semua yang terlibat untuk terus 'rihlah hati'... menyegarkan nurani dan mengajak lebih banyak orang untuk terlibat dalam proyek yang lahir dari bersih hati ini... insya allah.

Semua digagas dan dilaksanakan oleh teman-teman MP. Rapat berkali-kali, mematangkan rencana. Kepanitiaan yang luar biasa, yang mencerminkan ketulusan. Padahal sebagian besar, kalau nggak bisa dibilang semua baru punya waktu untuk rapat dll setelah maghrib, itu pun langsung meluncur dari kantor...

Maaf atas posting yang terlambat ini.

Perkenankan kami bagaimanapun dari keluarga Rumah Cahaya dan FOJIS untuk menghaturkan banyak terima kasih kepada kakak-kakak MP.

Terima kasih telah peduli pada kami. Semoga Allah membalasnya dengan mata air surga... amiiin.

 

 


Assalamu'alaikum,

Meski belum tahu dari mana dananya, insya allah Pengurus Rumah Cahaya dan teman-teman FOJIS akan menyelenggarakan Qurban di rumah cahaya. Dagingnya akan dibagi2kan kepada anak-anak yatim dan tidak mampu di rumah cahaya, juga masyarakat sekitar kolong jembatan.  Seperti tahun lalu telah dilaksanakan untuk pertama kali di Rumah Cahaya.

Doakan bisa terlaksana ya...

insya allah seperti biasa panitia dari rumah cahaya akan sangat selektif dan memastikan amanah teman-teman sampai kepada yang berhak.

Silakan juga jika keluarga besar MP mungkin ingin berpartisipasi baik berupa qurban utuh, atau pun donatur seikhlasnya,  bisa menghubungi Asma Nadia di 02192794556, atau sms ke 0811839531.  atau BIrulaut di 02192990915.

Dana qurban bisa ditransfer ke rekening Asma Nadia di bca 8690321972. mohon sepeti biasa mengirim sms atau imel setelahnya.

Terima kasih banyak. Mudah-mudahan Allah membuka ruang bagi kita selapang-lapangnya untuk kebaikan, agar nurani semakin terlatih, hidup dan peduli

salam

Asma Nadia

a/n Panitia Qurban Rumah Cahaya Penjaringan

Keterangan foto kegiatan rumah cahaya:

1. buka puasa bareng keluarga besar MP

2. acara bersama forum lingkar pena

3. panitia qurban tahun lalu



Blog EntrySosok di balik Rumah Cahaya PenjaringanOct 18, '05 9:34 PM
for everyone

Sebentar lagi Rumah Cahaya Penjaringan memasuki usia setahun. Siapa saja yang berdiri di balik rumah cahaya kami ini?

Selain teman-teman di Forum Lingkar Pena, ada sosok-sosok lain dari Forum Pengajian Subuh (FOJIS) yang saat ini mengelola rumah cahaya Penjaringan dengan baik.

Sosok pertama adalah Romlah, bisa dibilang sebagai kepala sekolah TPA Penjaringan dan bendahara rumah cahaya. Jangan mengira gadis yang sehari-hari mengajar di beberapa madrasah ini mendapatkan gaji dari jerih payahnya mengurusi rumah cahaya, kecuali gaji dari Allah, untuk semua kepedulian, perhatian dan kerja kerasnya mengurusi rumah cahaya.

Selain Romlah, ada Rojak, ketua RT yang menjadi corong rumah cahaya bagi warga sekitar. Rojak yang kerap menghayo-hayo warga agar peduli dan mau ikut dalam kegiatan-kegiatan yang diprakarsai FOJIS di rumah cahaya. semangatnya luar biasa. Berbagai kegiatan rumah cahaya terselenggara karena kegigihan bapak dari dua anak ini.

Sedang Tarjo, selain memandori pembangunan rumah cahaya, bapak yang sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir ini, adalah pengurus inti dari rumah cahaya penjaringan. Meski angker, tapi baik. Alhamdulillah dengan adanya Tarjo, rumah cahaya jadi lebih aman, hehehe. Padahal waktu pagar mau dibuat, gak semua warga setuju. Wajah tarjo bisa dilihat di foto pembangunan awal rumah cahaya^_^

Sosok lain yang tidak mungkin dilupakan adalah Andi Birulaut. Penulis yang tidak produktif ^_^, sekaligus pekerja teater ini, merupakan perintis berdirinya rumah cahaya Penjaringan.   Besar di Penjaringan membuatnya dekat dengan masyarakat dan dikenal  karena aktivitas kebaikannya di sana. Membuat celengan kayu dan mengedarkannya ke sekitar, agar ada tambahan dana, sudah lama dilakukannya, untuk keperluan anak-anak yatim yang disantuni FOJIS, bahkan sebelum rumah cahaya berdiri. Meskipun bukan pengurus, saat ini bisa dibilang Birulaut turut sebagai penentu kebijakan yang diambil rumah cahaya penjaringan, agar tetap maksimal untuk umat.

Seperti Romlah, baik Rojak maupun Tarjo, juga Birulaut,  tidak ada yang menerima imbalan uang dari rumah cahaya. Mereka membantu dan berusaha keras memaksimalkan kegiatan di rumah cahaya. Motonya, Meski hanya menyumbangkan tenaga...

Ya, tidak selalu dengan uang, untuk menunjukkan kepedulian. Semoga Allah melimpahkan banyak kebaikan bagi mereka yang terus berbuat. amin...



           Terlalu banyak permasalahan yang menghimpit warga Rawa Bebek Penjaringan. Kemiskinan, moral, dan maksiat.

            Judi misalnya adalah keseharian yang bisa kita temukan di gang-gang di  Rawa Bebek.  Mulai gaplek, sampai mesin judi yang cukup besar, ada di sana.

            Pelacuran? Jangan tanya. Lokalisasi yang memanjang dan ramai tiap malam, hanya berjarak 200 meter dari Rumah Cahaya. Miras? Ah, itu juga biasa.

            Pengurus Rumah Cahaya membuat pengajian dan kegiatan islam lain, agar pelan-pelan bisa mengajak warga sekitar, ke arah yang lebih baik.

            Tapi bagaimana dengan anak-anak? Mereka yang dalam usia dini  sudah biasa tak hanya melihat orang-orang dewasa di sekitarnya yang bermain, bahkan ikut bermain, tanpa ada yang melarang.  Mereka yang besar di jalanan. Tanpa upaya perubahan, mereka hanya akan menjadi buah yang tak jauh dari pohon.  Dekat dengan judi, bahkan kemaksiatan lain yang tersedia begitu mudah di sekitar mereka.

            Kondisi yang memprihatinkan itu mencetuskan ide untuk membuat sebuah sekolah gratis bagi anak-anak. Sebab dana masih menjadi kendala bagi warga. Padahal pendidikan mudah-mudahan bisa membuat sebuah perbedaan yang berarti bagi anak-anak itu kelak.

            TPA rumah cahaya pun dirancang.

            Tempatnya? Masih di ruangan 3 x 2,5 meter. Ruangan yang sama yang menjadi taman bacaan bagi anak-anak rumah cahaya.

            Biaya mulai diperhitungkan. Kapasitas yang mungil tidak memungkinkan rumah cahaya menerima banyak siswa. Lalu bagaimana syarat-syarat  mereka yang bisa mendapatkan fasilitas belajar gratis di TPA? Berapa biaya perbulan yang harus disediakan? Gaji guru, listrik, peralatan tulis, meja untuk belajar, dll?  Bagaimana agar kegiatan membaca tetap bisa berjalan, tanpa banyak terganggu?

            TPA gratis bagi siswa yang tidak mampu harus ada.  Masalahnya, di Rawa Bebek justru mudah sekali menemukan siswa tidak mampu, sebab nyaris seluruh warganya hidup dalam kondisi ekonomi yang sangat minim.

            Persyaratan pun diperinci lagi.

            Sementara itu, berita tentang akan berdirinya TPA Rumah Cahaya mendapat banyak tanggapan dari warga sekitar.

            Beberapa orang dari pengurus masjid (ini pengurus yang sama yang menggelapkan bantuan bagi fojis sebelumnya, ketika mereka berniat membuat perpustakaan, bertempat di masjid) yang menyelenggarakan madrasah mengatakan, tidak mungkin bisa dibuat TPA Gratis.

            “Biayanya dari mana? Gak bakalan nutup!”

            Sementara warga ramai mulai mendaftarkan anak-anaknya.

            Alhamdulillah, lagi-lagi niat kuatlah yang membuat Taman Pendidikan Al Qur’an Rumah Cahaya, akhirnya berdiri. Setelah elemen penting siap; guru dan anak-anak, serta peralatan tulis dan penunjang kegiatan,  

            TPA mulai berjalan.  Meskipun keinginan untuk menyiapkan gaji guru selama setahun, agar tidak perlu merasa khawatir jika sewaktu-waktu kegiatan TPA berhenti, belum terwujud.  Padahal gaji guru TPA sebetulnya tidak lah seberapa. Tapi anggaran memang minim, sehingga semua harus menuruti prioritas, agar maksimal.  Apalagi untuk biaya perbulan rumah cahaya selama ini saja, masih kembang kempis.

            Setiap Senin sd Kamis, sejak pukul 15.30 sd 17.00  mereka belajar di TPA Rumah Cahaya. Nyaris semua murid tidak dikenakan biaya, kecuali satu dua yang dianggap agak  mampu dan bisa membayar, tapi itupun dengan biaya bulanan yang jauh lebih kecil dibanding standar TPA sekitar.  Semua keuangan dibukukan dengan teliti oleh Romlah, agar amanah terus terjaga.

            Namun ada yang berbeda dari murid-murid TPA RC Penjaringan. Tidak seperti anak-anak lain yang memiliki seragam, murid-murid TPA mengenakan pakaian rumah ketika belajar.

            Seorang pengurus Masjid lagi-lagi berkomentar,

            “Udah dibilang nggak mungkin serba gratis! Buktinya kagak bisa ada seragam, kan anak-anak entu?”

            Teman-teman pengurus rumah cahaya hanya mengurut dada. Biarlah, bisa berjalan saja, sebenarnya sudah bagus. Terhibut sekali melihat semangat anak-anak belajar. Memang, jumlahnya belum seberapa, karena tempat yang sempit. Tapi mudah-mudahan bisa terus berjalan.

            Adalah tanggal 28 September yang membuat senyum di wajah anak-anak TPA rumah cahaya, lebih mekar dari biasanya. Keinginan sederhana yang selama ini menjadi milik anak-anak, akhirnya terwujud.

            Sejak tanggal itu, murid-murid TPA Rumah Cahaya Penjaringan,   kini tidak berbeda dengan murid-murid di sekolah lain. Ya, sebab seragam kotak-kotak ungu muda, kini menghiasi penampilan mereka. Hey, seragam gratis! Lengkap dengan  peci bagi murid laki-laki dan jilbab kecil, bagi murid-murid perempuan.

            Lagi-lagi terucap syukur.

            Terima kasih ya Allah… Semoga Engkau gerakkan hati-hati yang telah peduli kepada kami, agar terus terikat pada kebaikan. Amin.

 

--rumah cahaya, 19 Oktober 2005—

Asma Nadia

           



Blog EntryMerajut janji... di rumah cahaya kami:)Oct 11, '05 1:27 PM
for everyone

Ketika mendengar berita itu, saya pun ternganga..."Yang benar?" kata saya pada si pembawa berita.

Birulaut yang selama ini menjadi penghubung antara saya, dan teman2 FLP dengan Forum Pengajian Subuh  (FOJIS.) yang mengelola langsung rumah cahaya Penjaringan, tertawa, "Bener!" ujarnya menegaskan.

Ahh, luar biasa! Begitu mendengarnya saya pun tahu, saya harus menuliskan kisah ini, dan membaginya pada banyak orang.

Adalah seorang ayah yang resah karena memikirkan putranya.  Sang Ayah yang merupakan salah satu aktivis pengajian tiap kamis yang digelar FOJIS memiliki sebuah keinginan, namun ragu untuk mengungkapkannya.

Siapa hendak membantu? Permasalahan ini terlalu pribadi untuk merepotkan banyak orang, barangkali begitu pikir Sang Ayah. Tapi lagi, ia benar2 terbentur dana.

Begitulah, akhirnya suatu malam, lelaki berusia paro baya itu pun mengungkapkan keinginannya kepada teman-teman pengurus rumah cahaya penjaringan?  Seraya dalam hati menimbang-nimbang, ragu... apakah mereka akan mengizinkan?

Pengurus rumah cahaya penjaringan memang hanya orang-orang sederhana, yang sering kali terbentur pada keterbatasan. Tetapi mereka memiliki hati yang begitu lapang, terhadap sebuah niat baik.

"Kami akan bantu!"

Kalimat dari teman2 FOJIS sungguh melegakan sekaligus menyelesaikan dilema sang ayah.

Dan pagi itu, Jumat 23 Agustus 2005, rumah cahaya mungil kami, itu pun menjadi saksi sebuah peristiwa yang berbeda dari kegiatan2 sebelumnya.  Bukan pengajian, bukan latihan marawis, bukan pula tabligh akbar.

Semua berlangsung cepat, dan khidmat, dipandu Abah. Tidak ada perhelatan megah atau hidangan mewah, kecuali satu dua macam kue basah.

pagi itu, tepat pukul sembilan, rumah cahaya telah mendapat berkah yang lain: Menjadi tempat pernikahan Suryadi (21 th) dan Dwidarmi (26 th).

*****

 



Blog EntryDari ruangan kecil itu...Oct 11, '05 6:08 AM
for everyone

Merangkak... itulah kata yang tepat untuk menggambarkan pemenuhan fasilitas Rumah Cahaya, yang memang nyaris tidak memiliki donatur tetap.

 

Ketika ruangan berukuran 3 x 2.5 meter itu akhirnya jadi, rumah cahaya kami bahkan belum memiliki listrik. Bahkan ketika launching mau tidak mau harus ‘meminjam’ ini bahasa sopannya, kalau tidak bisa dibilang terpaksa mengambil (maaf ya...)

 

Alhamdulillah sekarang Rumah Cahaya Penjaringan sudah memiliki listrik sendiri, dan tak lagi meminjam… ^_^

 

Saat launching dan buku-buku siap ditata, kami pun sempat kebingungan. Sebab selain ruangan rumah cahaya belum memiliki rak buku. Jadi kemana buku-buku itu harus disandarkan?

 

Allah Maha Baik, tidak berapa lama kami dapat pemberian meja-meja belajar bekas dari rumah cahaya depok, sehingga ada tempat meski sederhana untuk menaruh buku-buku bacaan.

 

Tentu saja karena meja belajar bukanlah rak buku, penempatannya jadi tidak maksimal.  Tetapi apa yang ada harus terus disyukuri, mudah-mudahan dengan begitu Allah menambahkan kemudahan-kemudahan yang lain. 

 

Sekitar enam bulan atau lebih, ya… saya lupa pastinya, dari launching rumah cahaya, kami akhirnya bisa memiliki rak buku yang lebih layak. Lagi-lagi… alhamdulillah.

 

Bertahap  fasilitas-fasilitas lain kami dapatkan, melalui hamba-hamba Allah yang tergerak hatinya melihat antusias anak-anak dan remaja, di rumah cahaya.  Bahkan sebuah computer bekas, sekarang kami miliki. Anak-anak tidak mampu yang tinggal di Penjaringan, kini mulai mengenal  computer, walaupun harus bergantian. Remaja, dan orang-orang dewasa yang ikut sekolah malam, sempat belajar mengetik melalui computer.  Dengan sabar mereka mengantri agar dapat menyentuh dan berakrab ria dengan tombol computer, dan tuts-tuts keyboard.

 

Kondisi yang membuat saya menitikkan air mata. Sebab hal yang saya kira remeh saja, karena saya menggunakan computer nyaris tiap hari, ternyata amat sangat mewah bagi sebagian kalangan.  Tapi bersentuhan langsung dengan kondisi memang membuat perbedaan besar.

 

Dan satu demi satu kabar baik saya terima dari Birulaut, sebagai Kordinator Rumah Cahaya Pusat yang juga besar di Penjaringan dan sangat dekat dengan teman-teman FOJIS, yang selama ini menjalankan operasional rumah cahaya.

 “Allhamdulillah, sekarang rumah cahaya sudah memiliki speaker, buat acara.”

 

Lain waktu,

“Alhamdulillah, satu jendela bisa diganti kaca, jadi rumah cahaya lebih terang, sekarang.”

 

Atau,
“Alhamdulillah kami bisa bangun pagar, jadi anak-anak yang sedang membaca tidak langsung tergoda mesin judi celnet, yang ditaruh persis di samping rumah cahaya.”

 

Syukur kami mengalir terus, atas kebaikan yang Allah berikan.  

 

Dari tanah kosong … hingga sekarang, sungguh besar karunia yang Allah berikan.   

Ruah Cahaya Penjaringan, semakin hari kian memancarkan cahaya.  Dari sana menebal semangat teman-teman FOJIS untuk menggelar acara-acara keislaman, dengan rumah cahaya sebagai pusatnya.

 

Untuk pertama kali, tahun ini rumah cahaya bisa menggelar Qurban. Juga acara maulid, dengan mendatangkan Jhoni Indo sebagai penceramah (mereka belum pernah menggelar acara besar seperti ini sebelumnya). Acara dihadiri hampir semua kalangan yang tinggal di sekitar rumah cahaya, mereka yang sebagian besar masih lekat dengan sisi gelap kehidupan.

 

Setiap Kamis malam, di rumah cahaya penjaringan sekarang diadakan pengajian yasinan, pesertanya sebagian besar masyarakat sekitar. Dari guru sampai buruh, dari mereka yang masih menenggak miras, judi, bahkan BandarnyaJ


Dengan kelapangan hati, pengurus rumah cahaya tidak membatasi undangan pengajian. Siapa saja boleh belajar dekat dengan Allah, siapa saja boleh menuju pintu taubat, terlepas dengan berlari atau tertatih….

 

Setiap ahad siang, remaja dan orang-orang dewasa yang laki-laki berlatih marawis, bahkan patungan untuk memanggil  guru  marawis bagi mereka. Malamnya giliran anak-anak.  Kegiatan ini menjadi alternative untuk mendekatkan masyarakat di lingkungan rumah cahaya dengan Islam. Bagusnya juga, dengan banyaknya kegiatan, maka berkurang waktu mereka untuk berjudi, minum atau melakukan hal-hal yang negative lainnya.

 

Semakin hari pesertanya yang mengikuti latihan marawis makin banyak.   

Pengajian juga berkembang terus. Masyarakat yang simpati (bahkan sekarang lebih percaya kepada rumah cahaya dibanding masjid di sana), menyumbangkan makanan, buah dan minum ala kadarnya.  Sebagai identitas, pengikut pengajian ini juga memutuskan membuat seragam. Jadilah mereka, dari tampang alim sampai tampang preman, kini mengenakan gamis putih setiap kali mengaji ^_^

 

Apakah hanya sampai di situ kiprah rumah cahaya?
Alhamdulillah belum. Kapan-kapan akan saya update perkembangan terakhir yang  telah membuat saya takjub (Ahh, Allah memang Maha Baik)

 

Dan selalu setiap kali Birulaut menceritakan kondisi di rumah cahaya penjaringan, dari lisannya terucap,  

“Berkah, insya allah. Subahanallah.”  (Amin...)

 

Terima kasih untuk semua yang telah membantu, baik doa maupun materil. Juga teman-teman FOJIS. Kapan-kapan akan saya posting di sini beberapa profilnya. Mereka yang selalu berkata,   

“Yah… mau bantu  uang nggak bisa, mbak Asma. Hanya dengan tenaga saja. “ Kata Rojak dan Romlah, dua ujung tombak FOJIS yang menjalankan rumah cahaya penjaringan, dengan lugu.

 

Dan mata saya kembali berembun…

Begitu banyak cara yang Allah berikan pada kita, untuk membantu sesama. Dan hanya butuh sebuah niat untuk membuatnya nyata...

 

 

Rumah cahaya, 11 Oktober 2005

Catatan Asma Nadia

 

 

 

 

 

 

 



Menjelang tahun baru, saya ingat persisnya, karena hari itu untuk pertamakali saya memulai perjalanan yang seharusnya saya mulai lama sebelumnya, sebagai penulis: melihat realitas dari dekat.

Setelah mendapat izin, saya berkesempatan melihat sisi lain Jakarta yang sebetulnya saya tahu memang ada, dan tak asing. Hanya saja saya memang belum pernah melihat dari dekat.

Saya melalui daerah Bongkaran tanah abang, melihat gubuk-gubuk di sisi kiri rel kereta api, rumah-rumah minum, dan tempat yang biasa digunakan untuk pelacuran. Menyadari betapa berbedanya apa yang saya lihat dengan situasi yang saya bayangkan hanya dari riset pustaka. padahal saya telah menulis tentang daerah bongkaran tanah abang itu, beberapa tahun sebelumnya, dan buku itu telah dicetak ulang sembilan kali (maafkan saya, pembaca).

Dari Bongkaran saya melanjutkan perjalanan ke Kalijodo (belakangan catatan perjalanan ini menjadi bahan yang memberi saya energi lebih ketika menulis Ada Rindu di Mata Peri), melihat sendiri bagaimana suasana perjudian yang besar di sana, yang saking besarnya, siapapun akan bisa berpikir, bagaimana aparat bisa tak melihat?

Dari sana saya berjalan ke daerah Rawa Bebek, Penjaringan. Dengan negosiasi yang alot sebelumnya, alhamdulillah saya akhirnya dibolehkan ngobrol dengan seorang pelacur di kamar sempit yang biasa dipakai. Sampai sekarang saya masih terbayang tatapan-tatapan pengunjung dan karyawan di sana, ketika sosok berjilbab saya melewati mereka. Kontras betul dengan suasana yang hingar bingar dengan musik dangdut, dan kerlip lampu dari warung minum, juga berpasang-pasang anak manusia yang mojok.

Begitulah, dalam perjalanan pulangnya, saya diajak oleh seorang teman untuk berjalan menyusuri rumah-rumah di kolong jembatan. Sesekali dia mengingatkan saya untuk menahan mata saya agar tak terlihat begitu kaget dan ingin tahu, setiap  kali melihat pintu-pintu yang terbuka. Suasana yang gelap, bisa saya bayangkan tanpa jendela-jendela yang menampung matahari, meskipun suasana siang dan matahari sedang garang-garangnya. Sebab jalanan di atas mereka menutup cahaya apapun, kecuali bagi yang tinggal agak keluar. Saya perih, melihat lantai tanah mereka, perih melihat tiang-tiang beton, menjadi bagian dari rumah, dan dinding tempat bersender. Saya perih dan ingin menangis.

Sungguh tak terbayang, bagaimana mereka bisa hidup seperti itu?

Begitulah, lalu saya sampai di sebuah lokasi di pasar, tak jauh dari kolong jembatan. Sebidang tanah yang dibuat kios ala kadarnya, dan disewakan lalu dananya dipakai untuk menyantuni anak-anak yatim yang dikelola FOJIS (Forum Pengajian Subuh) sejak lama. Tanah di atas kios itu berukuran 3 x  2.5 meter. Bagian depannya yang harusnya los, sudah tertutup dipakai orang lain. sewa sebentar lagi usai, dan itu artinya tanah itu akan menjadi tempat terbuka untuk berjudi.

"Tanah ini diberikan ke anak-anak FOJIS untuk dimanfaatkan, ingin sekali bisa membangun perpustakaan di sini. Dulu kami dari FOJIS pernah berniat memanfaatkan mesjid untuk perpustakaan, tapi terbentur oknum mesjid yang tidak amanah. Barang-barang baru dari donatur untuk keperluan perpustakaan diambil, dan kami diberikan yang lama. Begitupun soal uang." ujar teman saya tersebut.

Saya memandang tanah di hadapan saya, terbayang sosok pelacur yang tadi saya temui, lalu wajah-wajah lain berprofesi serupa, lipstick mereka, pakaian mereka, tawa mereka... gadis-gadis muda itu hanya berjarak 200 meter dari situ. Saya terusik dengan anak-anak berusia sekolah dasar, beberapa masih sangat kecil, mungkin hanya 6 atau 7 tahun, tapi terlihat asyik main di judi, di jalan-jalan sekitar. Lalu mesin-mesin judi yang besar dan diletakkan di beberapa tempat di pasar? Hati saya nyeri lagi, tempat ini terlalu gelap...

Saya tak memiliki apa-apa. Tapi saya tahu teman-teman di Forum LIngkar Pena sedang menggagas berdirinya Rumah Cahaya, memanfaatkan rumah wakaf Dompet Dhuafa yang dipinjamkan kepada FLP untuk bisa dijadikan Rumah Baca dan Hasilkan Karya (Rumah Cahaya). Artinya niat teman-teman FOJIS tidak sendiri.

Tapi FLP pun organisasi yang meski besar, namun bisa dibilang sangat miskin dana. Mereka akan membantu, saya tahu persis itu, tapi tetap saja diperlukan dana cukup besar untuk membangun perpustakaan.

Dan sepanjang jalan pulang, saya terus terbayang pemandangan sekitar yang saya lalui. Seandainya saja bisa berdiri sebuah rumah cahaya di sana, maka insya allah akan benar-benar menjadi cahaya bagi sekitar yang pekat maksiat. Bisakah?

Saya tak punya apa-apa. Tapi saya punya teman-teman FLP, juga teman-teman FOJIS, yang melihat dari lamanya mereka mengurusi anak-anak yatim di sana, dan keseriusan mereka, saya tahu mereka akan amanah untuk mengelola. Saya juga tahu, saya punya Allah.

Dalam perjalanan pulang, saya sampaikan kepada teman saya tersebut, meluncur begitu saja: "Kita akan bangun rumah cahaya di Penjaringan."

Saya tak punya dana besar. Teman-teman saya juga tidak. Tapi saya tahu, Allah bersama setiap niat baik. Insya allah. (Asma Nadia, bersambung)



Seperti mendapat jawaban dari Allah, seorang teman menawarkan membantu dana dengan cara menjualkan pakaian2 layak pakai, dalam bazaar yang sedang dikelolanya bersama teman-teman. Murni, tanpa dipotong sekian prosentase.

Saya sendiri jujur sungkan untuk meminta bantuan berbentuk uang, kecuali dari mereka yang memang dekat dan saya tahu tidak terganggu dengan itu. Jadi sebagai langkah pertama, tawaran ini pun kami manfaatkan, saya dan Bang Andi mulai bergerak, mengumpulkan baju-baju layak pakai. Dimulai dari mengirimkan sms ke banyak teman. Tapi lalu terpikir, bagaimana membuatnya lebih menarik dan lebih powerful menggalang dana? Kecuali pakaian-pakaian tersebut milik artis, mungkin harganya akan biasa saja, apalagi dijual dalam bazaar sosial biasa.

Alhamdulillah Allah memberi kemudahan lagi, Meski belum kenal dekat, Mbak Huges dengan cepat merespon. Juga Astrie Ivo. Edwin yang ketika itu sedang di luar kota bahkan mempersilakan kami mengambilnya saja di rumah, sudah disiapkan katanya.

Tentu saja bukan tidak ada sedikit hambatan. Seorang artis mengiyakan, bahkan  menyuruh kami datang mengambil malam itu juga, namun kami undur karena malam sudah terlalu larut. Anehnya ketika esoknya kami akan mengambil, si suami mengatakan istrinya sama sekali belum menyiapkan baju-baju untuk disumbangkan.

Ada juga artis yang pro partai tertentu dan bertanya, apakah bazaar ini diadakan dalam bendera partai tersebut? Sebab dia hanya akan menyumbang jika bazaar berkenaan dengan partainya.

Allah. Saya yang sudah alergi dengan politik, jadi makin alergi. Kenapa kemanusiaan juga harus dikotak-kotakan atas nama partai? Kenapa kebaikan harus terhalang bendera.

Karena dana yang minim, belakangan saya menyerah juga. Saya meminta dana kepada beberapa teman. Berapapun, kata saya.

"Bagaimana kalau seribu dua ribu?" seorang teman menggoda saya.

"Berapapun akan saya terima." ujar saya.

Alhamdulillah dana terus terkumpul. Hasil penjualan bazaar langsung saya setorkan ke Bang Andi. Semua kami catat,  hingga mudah-mudahan tidak ada yang terlewat atau terlalaikan.

Begitulah, dari hasil penjualan bazaar terkumpul sekitar empat juta rupiah. Dari sumbangan perorangan teman-teman FLP maupun FLP Wilayah, ikut menambah besarnya jumlah. Meskipun belum cukup, tapi kami sepakat untuk mulai membangun rumah cahaya penjaringan. Sambil terus berdoa dan menyusun kekuatan. Tapi sedikitpun saya tidak ragu, atau terpikir, bagaimana kalau bangunan baru jadi setengah terus uang sudah tak ada? Saya tetap yakin, Allah tidak meninggalkan setiap niat baik. Insya allah. 

Bata demi bata mulai disusun. Teman-teman FOJIS mengabadikan momen ini. Sema  bergerak. Teman-teman Fojis, Romlah, Rojak, Tarjo memimpin langsung pembangunan. Lainnya ikut tersemangati. Begitulah selama pembangunan berkumpul berbagai ragam manusia. Dari yang dikenal baik, sampai yang masih berjuang dalam minuman keras, bahkan drugs. Tapi semua merasa harus membantu, minimal tenaga dan pikiran.

Dari Forum Lingkar Pena, pengurus pusat kala itu juga memberikan bantuan. Begitulah hingga akhirnya bangunan sederhana dengan ukuran 3 x  2.5 meter itu akhirnya tegak di tengah pasar. Membuat sebuah perbedaan di Rawa Bebek yang cenderung gelap. Setitik cahaya kini berpendar di sana.

Ketika bangunan siap, plang di pasang besar-besar. Tantangan lain kini di depan mata. Waktunya mengisi rumah cahaya dengan buku. Sebanyak-banyaknya.

Alhamdulillah Allah kembali memberi kemudahan. Buku-buku untuk rumah cahaya penjaringan mengalir. Dari FLP, dari penerbit rekanan FLP, juga sumbangan perorangan.  Meski tanpa melalui birokrasi yang semestinya. Ah, Allah sungguh-sungguh telah menggerakkan hati banyak orang. Pada hari H, GPU yang hanya dihubungi sehari sebelumnya, itupun melalui imel, datang membawa dua kardus besar buku-buku yang masih disampul plastik. Padahal tanpa keinginan kuat, cukup sulit menemukan lokasi rumah cahaya.

Sebagai pengisi acara, Allah menggerakkan Kang Gito Rollies, meskipun hanya dihubungi via telepon (Kang, asma gak bisa kasih apa-apa. paling traktir bakmi di sana yang terkenal enak:)). Beliau hadir  membawakan dua buah lagu yang menyentuh juga bertausiah. Mbak Yessy Gusman, setelah sebelumnya memberikan juga buku-buku untuk Rumah Cahaya, juga hadir membawa teman-teman kecil dari taman baca-nya untuk ikut tampil.

Tak ada amplop, tak ada honor. Tidak juga bagi Mas Yusron (Kak Ucon) pendongeng yang telah membawa tawa bagi wajah-wajah kecil di sana, ketika berdongeng dengan serunya.

Mas Toto menyumbang kebisaannya memotret. Warga menyumbang hidangan bagi para tamu yang dinikmati bersama usai acara (sayur asem, ikan asin, sambal terasi... wah!). Lainnya, teman-teman FOJIS mati-matian mempersiapkan dekor dan kursi bagi warga yang hadir. Juga soundsistem. semua lahir dari kerelaan.

Hari itu Rumah Cahaya Penjaringan resmi dibuka. Kang Gito Rollies, Mbak Yessy, Mbak Anas dari GPU, dan Asma bersama-sama meresmikan.

Setiap hari anak-anak sekitar, dengan bermacam usia datang dan membaca. Kaki-kaki mungil tanpa sendal, masih dengan ingus dan debu di wajah, semua ingin membaca. Teman-teman di FOJIS hingga saat ini mengurus dengan baik,  rumah cahaya penjaringan, dan terus memaksimalkannya.

Mudah-mudahan, meski tanpa donatur tetap, Rumah Cahaya Penjaringan terus berdiri dan menjadi menyebar cahaya kebajikan bagi sekitarnya. Amin.

(Teriring ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu, semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang lebih baik). --- Asma Nadia

 



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help